cema..masak sich..
May 15th, 2007 by dhesur83CEMAS DI ATAS HARAP
Oleh: Dede Suryana*
Tertunduk aku menatap sinaran cahaya jingga dari balik ketiak tahun,
yang tak pernah kusadari sama sekali, sekeping demi sekeping berhamburan
dibalut rasa kerinduan bertemu, bercampur kedukaan yang dalam akan liku, ucap,
tindak yang kurang menggembirakan. Bongkahan, sayatan kekesalan atas ribuan
restu yang tiada pernah menampakkan diri, terapung tak hanyut terendam tak
basah. Semua bagaikan rebak riuh semu yang hendak kugapai, meniti pelangi
pengharapan, namun demikian lemah hingga kandas berulang, jatuh dan tenggelam.
Mengapa harus tangan kananku?
Segenap upaya memohon restumu telah kucoba jamah dengan aneka cara.
Dari ketukan gemulai menghantam galuh kayu kokoh gemerlap, hingga benturan
keras jasad yang terlapau kuat beradu, dari titik darah yang menetes hingga
bersimbah, semua tak air peluh diurut, tak air talang dipancung. Hanya tawa
sinis berhias kuning deretan gigi yang disela-selanya penuh kotoran, meski yang
sebenarnya berkilauan. Tak ada orang yang memaling wajah sedianya, bila
mendapati tebaran senyum menawan dari kuncup bibir lamau seulas yang belum
sempat mengatup, memamerkan deretan gigi kecil tertata. Tapi tidak sempat sama
sekali menggetarkan lembaran bulu-bulu mataku berbaur, mengernyitkan dahiku
yang hitam.
Dedaunan ranum suatu ketika pernah berbisik, orang yang serakah
senantiasa menyesal dengan telah dapat gading bertuah, terbuang tanduk kerbau
mati. begitukah aku? Karma yang datang silih berganti tak benar jika terus
diratapi, sebab semua telah genting menanti putus, biang menanti tembuk.
Tunggulah!
Namun kenyataan, belasan kali aku disakiti, dihianati, dicampakkan
di atas rerumputan gersang, setelah semua yang kupunya dipersembahkan tanpa
sedikit pun harapan atas imbalan, sepi ing pamrih rame ing gawe. Tak
berlainan sama sekali menyakiti diriku sendiri dalam kelamnya kegelapan, yang
sesak berjejal dalam denyut irama darah lelakiku yang bergema menggelora.
Kehendak hati ingin menjerit meronta, menjerat batang leher kupu-kupu hijau
itu, membantai, mengiris secarik demi secarik tulang belulangnya yang telah berserakan.
Tak puas, kusambungkan kembali kerangka itu membentuk wujud sempurna seperti
sedia kala, lalu kerengkuh dalam dekapan amarah menyertai panas keringat yang
bercucuran. Mendengus penuh geram.
Dibalik jeruji, kucampakkan tubuhku dalam kesenyapan, menggulung
liukan tangis laksana makan hati berulam jantung. Menekuk bulu-bulu kaki dalam
temaram nyala lampu dinding.
Suling kerinduan suatu waktu pernah berbisik ditelingaku, gusar hati
tak
kan
pernah bisa diraba dengan kehangatan, bahkan dengan air sungai dari
hulu gunung berapi. Namun keheningan akan membuatnya terpaut pada ombak lautan
dalam yang tenang, berbaur angin dan pasir berbisik. Inilah ketentraman yang
sesungguhnya dikejar jutaan jiwa, yang kadang terhempas dari berbagai tujuan setitik
materi. Semua serba limau masak sebelah, perahu karam sekerat. Demikian suara
merdu itu mengusik.
Di saat seluruh alam kusenggama, mereka tak haru biru akan kegalauan
yang menyarang, akan kenistaan yang sedang kuratapi. Sepertinya aku memang tak
pantas mendapatkan restunya meski untuk beberapa teguk, bahkan beberapa tetas
liur yang menyambang membasahi kerongkongan. Tapi apakah harus perempuan-perempuan
berkain batik, bertelanjang dada yang
menghampiriku dalam keremangan, bukan bidadari surga yang menyandang secangkir
anggur Madagaskar, lalu membantu sekedar mengantarkannya ke hadapan.
Hanya kecewa, murka, gusar, bagai bergantung tiada bertali bersalai
tiada api. Memusnahkan gundukan dawai rapuh mengonggok tak bernilai, pemulung
pun tak hendak untuk mengambilnya.
Terkulai lemah menatap masa depan, menapak hamparan gundah dan kelu.
Kehendak hati ingin menyuguhkan sebutir berlian tanda penghormatan, sambang
penuh jala terletak laut ikan terhempas untuk saudaraku, namun tidak baginya,
longgang sendat lambang bertukul. Di lahir serupa tidak, dibatin mengguntig
angin.
***
Titik gerimis menyekapku dalam hawa dingin pagi yang tidak terlalu
ceria. Mengantarkanku pada suatu musim yang penuh dengan hiruk kecemasan, mengandai
berkelana ke tempat di mana mereka tinggal. Tak ragu untuk sekedar membasuh
muka dengan air liur, berharap jasad hendak diterima bumi, meski duduk berkisar
tegak berpaling.
Kemana selayaknya aku mengejar bayang-bayang itu? Akankah angin sudi
menghembuskan tiupan lembutnya, membelai meninabobokan aku dalam dekapan akar
pohon yang merengkuhku? Jika sebahagian alam saja enggan untuk sekedar berikan
kecupan hangat, bagaimana sebuah sosok bertangkai tulang bisa menerimaku,
dengan berbagai kekurangan yang kumiliki. Mereka semua jijik dengan napasku
yang bau, atau kulitku yang dianggap najis seperti binatang bertaring yang mati
di tepi pematang, mungkin?
Tak hendak muluk betul benakku bergumam, untuk keberadaanku
dimulyakan laksana putera mahkota, atau maha patih yang gagah perkasa, sebab
aku hanya seonggok jiwa yang lemah di hadapan-Nya. Namun pantaskah sesungguhnya
aku pasrah bergitu saja, bagian tubuhku disayat sehelai demi sehelai, bulu-bulu
di bandanku dicabut selebar demi selembar.
Bagaimana pun, semua telah mengena tangan kananku, pecah menanti
sebab, retak menanti belah, gayung telah bersambut tepuk telah berbalas,
untukku. Yang kumiliki kini hanyalah sejengkal angan, sisa-sisa di masa aku
memperturutkan semuanya untuk keinginanku yang biadab melebihi penguasa yang diktator.
Secercah harap untuk kebaikan yang akan kutuai, hanya kukubur dalam-dalam di
rongga dada yang penuh asap. Ia dan
mereka sudah tak mungkin sudi menerimaku.
Di
sana
, semua manusia tak sungguh-sungguh percaya akan kejamnya sebuah karma,
namun di sini aku sangat meyakininya. Sekalipun sebesar telur makhluk yang tak
terlihat oleh mata telanjang dari sebuah kebajikan, dan selempeng keburukan
yang terkubur di dalam lapisan terdalam tanah, tentu akan terbalaskan kini atau
mendatang. Tuhanku telah berfirman
seperti demikian.
Penyesalan tinggal penyesalan, harapan tinggal harapan, sakit
menimpa sesal terlambat. Tinggallah
kuberbantung pada titik nadir yang harus kurelakan, dengan orang lain yang
membalas segenap karya yang telah kulukis dengan kotoran, di atas kanvas kain
kaku yang rombeng. Biarlah hasil itu kupanen kini, untuk ketentraman di masa
yang akan datang. Mereka akan terus meyayat bagian kekhilafanku, sampai
noda-noda itu hilang dari belang dan kusamnya cikal bakal itikad jahat yang
masih tersisa.
***
Secangkir minuman telah berhenti
kuteguk, sebatang lintingan telah berhenti kuhisap, seporsi layanan perempuan
malam telah kutolak kini. Nikmat-nikmat semu itu selangkah semi selangkah telah
kutanggalkan dalam indahnya kesunyian. Di kala semua makhluk terlelap, kecuali
yang tak bernyawa namun memiliki naluri, merasa iba dengan keberadaanku yang tercampakkan dari
senda gurau mengasyikkan, yang bisa sedikit meringankan kegalauan, meski
bayang-bayang disangka tubuh.
Di saat yang sama, sehelai daun menguning jatuh tepat dipangkuan. Betapa aku teramat
berbahagia dengan kerelaannya kudekap, dengan ia balik merangkulku dalam
kehangatan air mata yang berlinang. Segumpal harap, dosa-dosaku sedikit
terbantahkan dengan seikat imbalan, makhluk kecil kusam tak berguna itu telah
berhasil menerimaku. Tak peduli sama sekali dengan ejekan orang-orang
sekeliling yang menganggapku bermimpi.
Di pagi berikutnya ketika
kumelangkah, satu lagi makhluk yang jatuh menimpaku, kali ini bunga yang
teramat indah. Seperti sebelumnya aku hanya bertanya mengapa harus jatuh di
atas tangan kananku, apakah tidak ada bantalan yang lebih empuk dan layak
selain tanganku yang penuh benjolan. Bunga itu hanya menggeliat merekahkan
kuncupnya yang semula mengatup menahan dingin. Kusempatkan diri mencium aroma
wangi yang semerbak dari kelopak, mahkota, dan bahkan dari tangkai yang
menyangganya.
Sekejap aku memaling, menyembunyikan
gundah yang tak bisa aku tutup, menganga, menimbulkan bau yang tidak sedap. Tak
pantas kiranya seekor lalat yang jorok sekalipun akan hinggap di atas bunga
yang demikian indah. Kuurungkan niatku untuk mendongak membalikkan muka,
terganjal suara merdunya yang mengelus pelipis dan bagian terkecil dari
tengkukku. Hanya sipu yang bisa kusuguhkan kala itu.
Seperti sore sebelumnya bunga yang
bertengger di tepi halaman, menciutkan badannya, menarik selimut tebal dari
kelopak untuk menutup rapat mahkota yang paling berharga baginya. Aku hanya
kembali tersipu penuh simpati, akan kehormatannya yang terpelihara dari makhluk-makhluk
yang hendak merenggut. Namun kekaguman itu tak pernah berlangsung lama,
bunga-bunga itu diliputi kabut tebal hingga aku ragu untuk kemudian tetap berharap
dan mengaguminya.
Keraguan itu tampak jelas keesokan
harinya. Ia terlihat tak selembut tuturnya, tak semenawan senyum dari bibir lamau
seulasnya, sungguh dalam menunduk ia menungging. Pendek kata, ia cuma
memutar-mutar kuping kecilku, menggunting rambut hitamku selipat demi selipat,
memenuhi hasratnya bermain. Kecewa kembali aku dibuatnya.
Sejauh mata memandang hanya kecemasan dan seribu harap yang mutlak
menjadi teman setiaku, entah sampai kapan. Sejauh semua orang tak sanggup
menerimaku sebab sisa keremangan yang sesungguhnya tak begitu tampak, dan begitu
pula aku tak pernah megobralnya, namun Tuhan maha tahu hasil yang mesti
kupanen. Bukan “cahya” yang terus kutunggu menerangiku sampai kapan, dan di
mana pun ia berada, yang tiba menghampiri.
Cahya yang akan terus kunantikan sampai di penghujung zaman. Di mana
Tuhan mempersembahkan cahaya-Nya, diberikan untukku bersamanya menggapai asa
yang masih kukubur. Cahya indah berwarna hijau berbayang jingga, dengan percikan
violet di tepinya, terimalah aku meski mungkin tanpa keindaan sebuah mahkota.
Yogyakarta mei 2005