cema..masak sich..

May 15th, 2007 by dhesur83

dhesur83@yahoo.com

CEMAS DI ATAS HARAP

Oleh: Dede Suryana*

Tertunduk aku menatap sinaran cahaya jingga dari balik ketiak tahun,
yang tak pernah kusadari sama sekali, sekeping demi sekeping berhamburan
dibalut rasa kerinduan bertemu, bercampur kedukaan yang dalam akan liku, ucap,
tindak yang kurang menggembirakan. Bongkahan, sayatan kekesalan atas ribuan
restu yang tiada pernah menampakkan diri, terapung tak hanyut terendam tak
basah. Semua bagaikan rebak riuh semu yang hendak kugapai, meniti pelangi
pengharapan, namun demikian lemah hingga kandas berulang, jatuh dan tenggelam.
Mengapa harus tangan kananku?

Segenap upaya memohon restumu telah kucoba jamah dengan aneka cara.
Dari ketukan gemulai menghantam galuh kayu kokoh gemerlap, hingga benturan
keras jasad yang terlapau kuat beradu, dari titik darah yang menetes hingga
bersimbah, semua tak air peluh diurut, tak air talang dipancung. Hanya tawa
sinis berhias kuning deretan gigi yang disela-selanya penuh kotoran, meski yang
sebenarnya berkilauan. Tak ada orang yang memaling wajah sedianya, bila
mendapati tebaran senyum menawan dari kuncup bibir lamau seulas yang belum
sempat mengatup, memamerkan deretan gigi kecil tertata. Tapi tidak sempat sama
sekali menggetarkan lembaran bulu-bulu mataku berbaur, mengernyitkan dahiku
yang hitam.

Dedaunan ranum suatu ketika pernah berbisik, orang yang serakah
senantiasa menyesal dengan telah dapat gading bertuah, terbuang tanduk kerbau
mati. begitukah aku? Karma yang datang silih berganti tak benar jika terus
diratapi, sebab semua telah genting menanti putus, biang menanti tembuk.
Tunggulah!

Namun kenyataan, belasan kali aku disakiti, dihianati, dicampakkan
di atas rerumputan gersang, setelah semua yang kupunya dipersembahkan tanpa
sedikit pun harapan atas imbalan, sepi ing pamrih rame ing gawe. Tak
berlainan sama sekali menyakiti diriku sendiri dalam kelamnya kegelapan, yang
sesak berjejal dalam denyut irama darah lelakiku yang bergema menggelora.
Kehendak hati ingin menjerit meronta, menjerat batang leher kupu-kupu hijau
itu, membantai, mengiris secarik demi secarik tulang belulangnya yang telah berserakan.
Tak puas, kusambungkan kembali kerangka itu membentuk wujud sempurna seperti
sedia kala, lalu kerengkuh dalam dekapan amarah menyertai panas keringat yang
bercucuran. Mendengus penuh geram.

Dibalik jeruji, kucampakkan tubuhku dalam kesenyapan, menggulung
liukan tangis laksana makan hati berulam jantung. Menekuk bulu-bulu kaki dalam
temaram nyala lampu dinding.

Suling kerinduan suatu waktu pernah berbisik ditelingaku, gusar hati
tak

kan

pernah bisa diraba dengan kehangatan, bahkan dengan air sungai dari
hulu gunung berapi. Namun keheningan akan membuatnya terpaut pada ombak lautan
dalam yang tenang, berbaur angin dan pasir berbisik. Inilah ketentraman yang
sesungguhnya dikejar jutaan jiwa, yang kadang terhempas dari berbagai tujuan setitik
materi. Semua serba limau masak sebelah, perahu karam sekerat. Demikian suara
merdu itu mengusik.

Di saat seluruh alam kusenggama, mereka tak haru biru akan kegalauan
yang menyarang, akan kenistaan yang sedang kuratapi. Sepertinya aku memang tak
pantas mendapatkan restunya meski untuk beberapa teguk, bahkan beberapa tetas
liur yang menyambang membasahi kerongkongan. Tapi apakah harus perempuan-perempuan
berkain batik, bertelanjang dada yang
menghampiriku dalam keremangan, bukan bidadari surga yang menyandang secangkir
anggur Madagaskar, lalu membantu sekedar mengantarkannya ke hadapan.

Hanya kecewa, murka, gusar, bagai bergantung tiada bertali bersalai
tiada api. Memusnahkan gundukan dawai rapuh mengonggok tak bernilai, pemulung
pun tak hendak untuk mengambilnya.

Terkulai lemah menatap masa depan, menapak hamparan gundah dan kelu.
Kehendak hati ingin menyuguhkan sebutir berlian tanda penghormatan, sambang
penuh jala terletak laut ikan terhempas untuk saudaraku, namun tidak baginya,
longgang sendat lambang bertukul. Di lahir serupa tidak, dibatin mengguntig
angin.

***

Titik gerimis menyekapku dalam hawa dingin pagi yang tidak terlalu
ceria. Mengantarkanku pada suatu musim yang penuh dengan hiruk kecemasan, mengandai
berkelana ke tempat di mana mereka tinggal. Tak ragu untuk sekedar membasuh
muka dengan air liur, berharap jasad hendak diterima bumi, meski duduk berkisar
tegak berpaling.

Kemana selayaknya aku mengejar bayang-bayang itu? Akankah angin sudi
menghembuskan tiupan lembutnya, membelai meninabobokan aku dalam dekapan akar
pohon yang merengkuhku? Jika sebahagian alam saja enggan untuk sekedar berikan
kecupan hangat, bagaimana sebuah sosok bertangkai tulang bisa menerimaku,
dengan berbagai kekurangan yang kumiliki. Mereka semua jijik dengan napasku
yang bau, atau kulitku yang dianggap najis seperti binatang bertaring yang mati
di tepi pematang, mungkin?

Tak hendak muluk betul benakku bergumam, untuk keberadaanku
dimulyakan laksana putera mahkota, atau maha patih yang gagah perkasa, sebab
aku hanya seonggok jiwa yang lemah di hadapan-Nya. Namun pantaskah sesungguhnya
aku pasrah bergitu saja, bagian tubuhku disayat sehelai demi sehelai, bulu-bulu
di bandanku dicabut selebar demi selembar.

Bagaimana pun, semua telah mengena tangan kananku, pecah menanti
sebab, retak menanti belah, gayung telah bersambut tepuk telah berbalas,
untukku. Yang kumiliki kini hanyalah sejengkal angan, sisa-sisa di masa aku
memperturutkan semuanya untuk keinginanku yang biadab melebihi penguasa yang diktator.
Secercah harap untuk kebaikan yang akan kutuai, hanya kukubur dalam-dalam di
rongga dada yang penuh asap. Ia dan
mereka sudah tak mungkin sudi menerimaku.

Di

sana

, semua manusia tak sungguh-sungguh percaya akan kejamnya sebuah karma,
namun di sini aku sangat meyakininya. Sekalipun sebesar telur makhluk yang tak
terlihat oleh mata telanjang dari sebuah kebajikan, dan selempeng keburukan
yang terkubur di dalam lapisan terdalam tanah, tentu akan terbalaskan kini atau
mendatang. Tuhanku telah berfirman
seperti demikian.

Penyesalan tinggal penyesalan, harapan tinggal harapan, sakit
menimpa sesal terlambat. Tinggallah
kuberbantung pada titik nadir yang harus kurelakan, dengan orang lain yang
membalas segenap karya yang telah kulukis dengan kotoran, di atas kanvas kain
kaku yang rombeng. Biarlah hasil itu kupanen kini, untuk ketentraman di masa
yang akan datang. Mereka akan terus meyayat bagian kekhilafanku, sampai
noda-noda itu hilang dari belang dan kusamnya cikal bakal itikad jahat yang
masih tersisa.

***

Secangkir minuman telah berhenti
kuteguk, sebatang lintingan telah berhenti kuhisap, seporsi layanan perempuan
malam telah kutolak kini. Nikmat-nikmat semu itu selangkah semi selangkah telah
kutanggalkan dalam indahnya kesunyian. Di kala semua makhluk terlelap, kecuali
yang tak bernyawa namun memiliki naluri, merasa iba dengan keberadaanku yang tercampakkan dari
senda gurau mengasyikkan, yang bisa sedikit meringankan kegalauan, meski
bayang-bayang disangka tubuh.

Di saat yang sama, sehelai daun  menguning jatuh tepat dipangkuan. Betapa aku teramat
berbahagia dengan kerelaannya kudekap, dengan ia balik merangkulku dalam
kehangatan air mata yang berlinang. Segumpal harap, dosa-dosaku sedikit
terbantahkan dengan seikat imbalan, makhluk kecil kusam tak berguna itu telah
berhasil menerimaku. Tak peduli sama sekali dengan ejekan orang-orang
sekeliling yang menganggapku bermimpi.

Di pagi berikutnya ketika
kumelangkah, satu lagi makhluk yang jatuh menimpaku, kali ini bunga yang
teramat indah. Seperti sebelumnya aku hanya bertanya mengapa harus jatuh di
atas tangan kananku, apakah tidak ada bantalan yang lebih empuk dan layak
selain tanganku yang penuh benjolan. Bunga itu hanya menggeliat merekahkan
kuncupnya yang semula mengatup menahan dingin. Kusempatkan diri mencium aroma
wangi yang semerbak dari kelopak, mahkota, dan bahkan dari tangkai yang
menyangganya.

Sekejap aku memaling, menyembunyikan
gundah yang tak bisa aku tutup, menganga, menimbulkan bau yang tidak sedap. Tak
pantas kiranya seekor lalat yang jorok sekalipun akan hinggap di atas bunga
yang demikian indah. Kuurungkan niatku untuk mendongak membalikkan muka,
terganjal suara merdunya yang mengelus pelipis dan bagian terkecil dari
tengkukku. Hanya sipu yang bisa kusuguhkan kala itu.

Seperti sore sebelumnya bunga yang
bertengger di tepi halaman, menciutkan badannya, menarik selimut tebal dari
kelopak untuk menutup rapat mahkota yang paling berharga baginya. Aku hanya
kembali tersipu penuh simpati, akan kehormatannya yang terpelihara dari makhluk-makhluk
yang hendak merenggut. Namun kekaguman itu tak pernah berlangsung lama,
bunga-bunga itu diliputi kabut tebal hingga aku ragu untuk kemudian tetap berharap
dan mengaguminya.

Keraguan itu tampak jelas keesokan
harinya. Ia terlihat tak selembut tuturnya, tak semenawan senyum dari bibir lamau
seulasnya, sungguh dalam menunduk ia menungging. Pendek kata, ia cuma
memutar-mutar kuping kecilku, menggunting rambut hitamku selipat demi selipat,
memenuhi hasratnya bermain. Kecewa kembali aku dibuatnya.

Sejauh mata memandang hanya kecemasan dan seribu harap yang mutlak
menjadi teman setiaku, entah sampai kapan. Sejauh semua orang tak sanggup
menerimaku sebab sisa keremangan yang sesungguhnya tak begitu tampak, dan begitu
pula aku tak pernah megobralnya, namun Tuhan maha tahu hasil yang mesti
kupanen. Bukan “cahya” yang terus kutunggu menerangiku sampai kapan, dan di
mana pun ia berada, yang tiba menghampiri.

Cahya yang akan terus kunantikan sampai di penghujung zaman. Di mana
Tuhan mempersembahkan cahaya-Nya, diberikan untukku bersamanya menggapai asa
yang masih kukubur. Cahya indah berwarna hijau berbayang jingga, dengan percikan
violet di tepinya, terimalah aku meski mungkin tanpa keindaan sebuah mahkota.

Yogyakarta mei 2005

Gila yach aku.ah nggak kok…

May 15th, 2007 by dhesur83

dhesur83@yahoo.com

DI ATAS KEGILAAN

Oleh:
Dede Suryana

 “Qu’est que la vie sans
l’amauor
” begitu
kata orang Francis. Nadanya terkesan indah penuh romantisme. “Apalah arti hidup
tanpa sebuah cinta”. Cinta pada seseorang dekat, keluarga, pekerjaan atau
banyak hal, akan membentuk ketenangan jiwa yang mengalir begitu saja bagai
embun yang menetes dari kelopak mawar di pagi hari. Namun terkadang pula cinta
membelenggu jiwa, mengekang, hingga bergumul memberontak, menyayat semua
kebebasan dan membentuk gundukan ornamen kegilaan.

 sejenak aku mematung memikirkan
sebuah pepatah itu. Dahiku mengerut, kedua alis hampir menyambung menjadi satu,
bibirku tanpa sengaja berucap lirih, apakah kegilaan akan membebaskan semua
formalitas hidup yang kerap membuatku terpasung? Apakah aku harus seperti gila?
Perlahan wajahku mendongak menatap awan biru yang sedih, memaling ke kiri dan
ke kanan penuh keraguan. “gilakah aku atau bilakah aku menjadi gila”?

 Rambutku dibiarkan gimbal tak
tertata. Aku merasa bukan mengisyaratkan kegilaan, atau menandakan aku tak
mampu membeli se-sachet shampo. Raut
wajahku yang selalu menekuk lebih jelek dari beberapa minggu lalu, mencerminkan
benak dan pikiranku sedang dan selalu berantakan, seperti asap tembakau yang
beriak tertiup semilir angin petang. Tidak menyambang menyeruakkan nikmat
sebelumnya, dalam gelintiran asap yang keluar sedikit dari sisa hisapan
paru-paruku. Tapi itu hanya pemandangan orang-orang sekitar tentang aku,
kegilaan, dan kegembelanku. Toh aku tetap merasa enjoy menjalaninya.

 Perkara lain, jika orang-orang
sekeliling menganggapku tidak waras. Aku akan tetap menikmati dan mencintai
kegilaan ini. Dalam kondisi dan rutinitas seperti itulah, hidupku tidak sama
sekali hampa, sebab aku pun memiliki cinta sebagai manusia. Aku mencintai
kebebasan dan keterus terangan, bukan ikatan dan kepura-puraan, yang kerap
melemparkan penganutnya pada kegelisahan, dan akhirnya menyerbu penderitaan
yang kekal tiada berujung.

 Sementara aku bebas melakukan segala
hal, manusia lain tak satu pun yang merasa terusik. Bukan beban bagiku
sekalipun tak punya sebuah sedan mewah yang panjang seperti bus penumpang,
karena kemana pun tempat yang kutuju, bisa menempuhnya dengan berjalan. Aku tak
lelah, tak berkeringat, tak merasa terik meski terkadang aku telanjang, tetap
nyaman seperti terbaring di atas jok kulit mewah, dibuai lirih alunan “Where do I begin to tell the story of how
great the love can be..”
. Suara Nana Mouskouri yang sendu diiringi dentuman
sound yang apik dan speaker ekstra lembut dalam sedan Limo nan mewah.

 Aku tak punya teman apalagi pacar,
kini. Aku tak mau kenal dengan orang-orang sekitar, sebab manusia dirasa tak
terlalu sabar dan adakalanya suka usil dan mengganggu. Tetapi dengan tidak
punya teman bukan berarti aku tidak punya cinta dan menjadi sosok yang angkuh
dan sombong, toh aku tidak pernah mencuri, memarahi, memfitnah, memperkosa,
korupsi atau merugikan orang lain. Cinta yang kupunya telah banyak kutuangkan
untuk lamunanku sendiri, hingga aku bisa terbahak, bersedih, atau menangis pula
tanpa alasan. Aku bebas melakukan semuanya, karena semua orang dewasa sangat
memaklumi orang gila dan tak ada sesuatu pun yang bisa menghukuminya, bahkan
negara yang adikuasa atau sekalipun Tuhan yang maha kuasa.

 Aku bebas di mana pun hendak
tinggal, di emper toko, di kolong jembatan atau di pinggir taman. Seluruh
kebutuhan yang kuperlukan telah tersedia di sana. Bila perutku lapar aku
tinggal mencari beberapa tempat sampah, di sana
 aku bisa memungut sisa makanan.
Bahkan di lain kesempatan pasti ada orang berbaik hati memberikan makanan,
minuman manis, bahkan sebatang kretek yang setia menemaniku. Ah, indahnya
hidupku.

 Kesendirian adalah teman sejatiku.
Sesuatu yang kulakukan lagi-lagi dengan penuh cinta, sebagai cerminan seseorang
yang kuanggap teramat bijak dan ideal. Sebijak senyum FD Roesevelt yang
mengangguk membenarkan pendapat dua orang senator yang berlainan pandangan.
Bahkan ungkapan “that right” yang
diucapkannya pula dengan tenang dan lapang terhadap sang istri, ketika ia
menyalahkannya.

 Berbicara tentang kegilaan dan
cinta, acap kali aku teringat ketika masih terkungkung dalam romantisme
menjemukan, sebelum aku menikmati kebebasan seperti sekarang. Saat aku kuliah
di universitas ternama di sana, sokongan dana yang lebih dari cukup untuk
menopang hidup, meski terkadang tetap harus berutang ke sana
 sini, pacar
yang mirip Drew Barrymore menurut beberapa kawan, dan aku disayangi keluarga
serta banyak teman. Tatkala itu orang-orang kurang lebih menganggapku waras tak
kurang sehasta pun, namun aku merasa sungguh-sungguh gila. Cinta yang
kutumpahkan untuk semuanya membuatku terasa gila.

 Aku bertemu dan kenal dengan seorang
yang gila pula. Dia tak seseksi Angelina Jolie tapi membuatku sangat gila,
entah. Statusku untuknya hanya teman atau lebih tepatnya sahabat. Tapi sepertinya
teman yang aneh, ketika aku sekedar mengantarnya pulang dan sementara aku ikut
masuk ke dalam bus malam yang remang, dia berani melumat bibirku dengan penuh
gairah, sepertinya. Aku hanya bisa diam menikmati sensasi yang belum pernah
kudapatkan dari pacarku yang alim. Hari yang berganti minggu, bulan berganti
tahun, aku semakin nyaman di sisinya, tergolek dalam dekapannya. Disela-sela
perbincangan yang mengasyikkan tentang pacarku dan kekasihnya, aku semakin liar
dan ia tak keberatan untuk melayani hasratku.

 Setahun lebih aku mengenalnya, walau
sesi pertemuan tak jarang hanya beberapa hari saja dalam sekian minggu. Aku
seperti mendapatkan kepuasan sesaat darinya, di balik rasa bersalah untuk Drew
Barrymore-ku dan “Brad Fit” kekasihnya. Sementara aku mengenal baik pacarnya,
demikian pula Jolie yang juga akrab dengan belahan hatiku, aku dan dia telah
benar-benar munafik menjadi musuh dalam selimut masing-masing.

 Nasib telah mempertemukan kami
secara tidak sengaja dan Tuhan pula yang seolah menyetujui kencan demi kencan
yang kami lakukan, tanpa sehelai pun rasa bersalah. “Ya, tak perlu merasa
bersalah. Orang kami tidak pernah punya ikatan, tidak pula berjanji setia
saling menyayangi, hanya teman biasa yang kadang berjalan mesra”. Tak jarang
pula kami kemalaman di suatu tempat. Hendak pulang hujan deras mengguyur, tak
membawa jas hujan pula. Dia menyarankan makan terlebih dahulu di warung
sederhana, dengan Ibu tua yang ramah melayani. Bahkan menawarkan jasa
pemondokan yang disediakannya.

 Kami saling memandang kelopak
masing-masing. Aku mengangkat bahu meminta saran dan persetujuan dan ia hanya
mengangguk sambil tersenyum. Ternyata benar, hujan tak berhenti sampai esok
paginya, terus menerus gemerisik prihatin. Ikut berduka akan orang-orang yang
mengaku waras, berpendidikan, cukup, dan cakap, namun sedianya tak lebih
terhormat dari tanaman layu di beranda yang sabar meski tak ada yang memberi
setetes air. Atau mungkin malah lebih gila dari hewan yang tak punya akal dan
pikiran, hanya naluri yang seperti semua makhluk berjasad punyai.

 Terakhir kali aku bertemu dengannya
tepat enam bulan yang lalu, kalau tidak salah. Setelah kami bercengkrama
dibalik deru ombak yang meninabobokan kami. Saat kami merasa seperti itulah
keindahan, saat sehari semalam kami habiskan untuk bersama-sama meneguk anggur
keabadian dan menjelajahi ranumnya pegunungan hijau yang rimbun serta lembah
sunyi yang airnya tenang. Setelah itu pula ia mengabarkan sudah cukup kiranya
hubungan gelap antara kami diakhiri sampai saat itu. Jolie dan Brad Fit-nya
sudah tak berhubungan lagi, namun ia bilang sudah dapat penggantinya.
Syukurlah.

 Menyusul beberapa saat kemudian, aku
pun memilih meninggalkan semua yang kupunya. Drew Barrymore yang “semok”,
kuliah yang sebentar lagi kuselesaikan dengan gelar yang—kata saudara
perempuanku—cukup untuk kujadikan modal, keluarga dan teman-teman yang konon
mencintaiku. Aku merasa lebih bebas dengan menjadi gembel yang seperti orang
gila. Meskipun kerap kali orang keliru menafsirkankan gembel dengan gila. Menurutku
gembel adalah gembel, dan gila adalah gila. Orang gembel belum tentu gila,
demikian orang gila tidak selalu berpenampilan gembel dan kucel. Banyak orang
yang berpakaian perlente, memangku jabatan tinggi, bermobil mewah, tetapi
sesungguhnya lebih gila dari Satinah yang sering bugil, berkeliaran tak tentu
arah sambil tertawa dan terkadang menangis, sambil menjambak dan memutar-mutar
helai rambutnya sendiri yang seperti Bob Marley.

*****

 Meskipun sebahagian orang mengataiku
gila, setidaknya aku masih bisa menatap sambil berkaca-kaca, sebuah sepeda
motor tua yang lewat dihadapanku. Di mana seorang pemuda membonceng perempuan
paruh atau mungkin malah tigaperempat baya, bersanggul mengenakan kebaya merah
ati dan berkain batik motif monoton. Dalam gendongannya menyembul kepala bayi
mungil memakai sweater merah jambu berkuncung. Bayi itu sekilas balik menatapku
dan tersenyum. Entah ia menyetujui apa yang kuyakini dan kulakukan selama ini,
atau malah secara sengaja menertawakan aku. Entahlah, hanya Tuhan yang tahu
pasti .

 Senyum bocah itu masih terus kuingat
sampai siang ini yang amat panas membakar orang yang masih mengaku normal,
ketika aku duduk termangu di gubug tepi jalan, yang disampingnya ada sebuah
kolam yang penuh dengan eceng gondok. Senyum bayi itu jelas terlihat,
menggambarkan kedamaian seperti burung elang yang bebas terbang ke mana pun ia
tuju. Tanpa beban, tanpa keriput memikirkan aneka masalah hidup, dan tentu
tidak pernah merasa diperbudak atau memeperdak sesuatu. Senyum yang tenang
bagaikan air yang sekilas terlihat di sela tanaman yang hampir memenuhi kolam
itu. Sambil menatap jauh melewati bentangan sawah yang menghijau, deretan tiang
listrik ekstra tinggi, kendaraan yang sesekali lewat di hadapan, aku sepertinya
menyaksikan dengan samar bayi itu berdiri di hadapanku, dengan mengangkat kedua
tangan yang dikepalkan sambil ibu jarinya terangkat pula. Disertai senyum yang
mengembang ia berujar, “Bagus, cintailah hidupmu ”

 Aku meyampingkan garis mulut
simetris mempertontonkan gigi kuning kehitaman yang tak pernah terawat,
menirukan senyum tulus bayi itu beberapa minggu lalu. Tak lama berselang
bibirku bergerak sambil terus tersenyum, “oke guys! aku pun bisa merasakan damai yang sesungguhnya”.

Ya, aku telah
menemukan cinta dan keindahan yang selayaknya dimiliki seorang sufi berjenggot
tebal. Seindah bercak coretan cat Van Gogh di atas kanvas The Yellow book atau boulevard
des capucines
. Indah dalam sebuah kebebasan hakiki sebagaimana kebahagiaan
yang konon sangat didambakan setiap insan kelak, di saat semua yang membebani
hidup mereka sudah tak dapat lagi dibawa dan dipergunakan. Hanya tubuh yang
telanjang tanpa dasi dan helai kain. Bahkan jas yang harganya jutaan yang tetap
lapuk dimakan bakteri dan cacing tanah.

 Seperti kata khotbah Pak Kiayi yang
sempat kudengar lamat-lamat di tengah terik itu. Kebahagian manusia tak akan
pernah melebihi keindahan sebuah pertemuan dengan Tuhan, kelak. Aku hanya
mengangguk berulang kali mendengar sayup suara itu. Karena aku kerap
melakukakannya. Bercengkarama dengan para malaikat yang terbang mengelilingiku,
di tengah malam yang dingin lagi gulita. Bukan di mihrab sebuah masjid, namun di alun-alun kota
 yang sepi
dari orang berlalu-lalang, di bawah pohon beringin.

 Kuyakin keindahannya lebih dari
seribu kali peristiwa yang beberapa kali kualami. Kejadian yang mungkin hanya
sepadan dengan tegukan tequila yang
menyambangi tenggorokan di tengah alunan musik Beethoven dan Mozart. Yakinlah
kehidupan di sana
 lebih gemerlap dengan kemewahan, jangan percaya
dengan bualan Foucault dan Habermas. Hidup pun akan terasa indah di atas segala
kegilaan.*****

 Jogjakarta,
3 September 2006